Mengenang Kepergianmu..Ayah….Ibu…

Home / Tulisanku / Mengenang Kepergianmu..Ayah….Ibu…
Mengenang Kepergianmu..Ayah….Ibu…

Mengenang 40 hari kepergianmu ayah dan 100 hari kepergianmu ibu….

Bersyukurnya hidup dan dibesarkan dengan penuh limpahan kasih sayang dari kedua orang tua terbaik ini. Orang tua yang tidak pernah meminta dan menuntut apapun. Mereka cuma meminta kami  untuk taat pada agama dan beribadah dengan sebaik-baiknya, menjalankan aqidah yang mereka tanamkan kepada kami sejak kecil. Insyaallah, kami jalankan amanatmu Ayah…Ibu, tidak akan pernah kami bebankan tambahan hisab bagimu karena kami  lalaikan dan palingkan muka dari agama  yang telah kalian ajarkan sejak kami dalam buaian.

Kamipun tahu lelahmu Ibu, mengajarkan ke empat anak perempuanmu menjadi wanita sholehah yang taat pada agama, orang tua dan suami. Kami juga paham payahmu ibu mengajarkan kami menjadi wanita berakhlak baik yang mampu menjaga iman Islam sampai akhir hayat. Kami akan selalu ingat pesanmu untuk menjaga dan mendidik anak cucu  keturunan  menjadi manusia yang hatinya selalu dalam ketetapan iman dan akidah yang kuat, bagimu suatu keharusan…  agama yang utama. Jangan pernah berpaling dari agama, cuma karena urusan dunia, apalagi urusan harta karena mati cuma agama yang dibawa itu pesanmu, ibu. Kami mengerti betapa tangguhnya dirimu  menjaga dan mengantarkan kami menjadi wanita berpendidikan tanpa lupakan agama.

Ketika bercerita tentang Lelaki pentingku yang satu ini, selalu speachless. Lelaki yang begitu penyabar dan penuh perhatian. Laki-laki  jujur dan begitu setia yang kupanggil ayah. Membesarkan keempat putrinya ini dengan kasih sayang yang begitu besar. Ayah seperti punya banyak stok kesabaran saat  menjaga dan membesarkan kami. Dari kecil hingga kami semua berkeluarga masing-masing, belum pernah kami dapati dan merasakan  kemarahannya, kata kasarnya apalagi perlakuan kasar darinya.

Darimu ayah kami belajar bahwa penting menjadi orang jujur, pesanmu agar kami jujur dan jangan pernah memakan dan mengambil yang bukan hak milik kita, ataupun sampai merampas milik orang lain, rezeki sudah ada yang atur, itu yang selalu ayah ingatkan selain untuk  jalankan agama dengan taat, jangan pernah berpaling dari keimanan.

Kami akan selalu ingat lelahnya ayah memberikan segenap perhatian ayah pada hal kecil sekalipun, kangen dering telpon ayah sekedar menanyakan kabar dan cerita anak cucu. Kangennya kami pada sosok lelaki setia dengan kesabaran yang sangat. Hingga kami semua dewasa, tidak pernah sekalipun menyaksikan perselisihan atau keributan kedua orang tua kami, kata mereka begitulah rumah tangga, berpasangan  harus saling ridho dan saling banyak memaklumi juga memahami, termasuk menjaga kesetiaan. Semoga dan semoga Allah mampukan kami menjalani yang Ayah Ibu contohkan demikian.

Ayah Ibu…semoga lisan kami tak pernah lupa panjatkan doa untukmu karena saat ini  hanya itu yang  bisa kami berikan sebagai balasan jerih payahmu  mendidik dan membesarkan kami semua. Semoga lantunan doa mampu sampaikan rindu kami yang tidak pernah tuntas dan terasa begitu menyakitkan saat mengenang segalanya tentangmu. Semoga kami dijauhkan dari kekhilafan perbuatan dosa yang akan menjadi siksa  orang tua.

Miss U much….

Mengenang Ayah Ibu tercinta..

 

H.Zainal Arifin bin Ibrahim (20 April 1941-29 Juli 2019)

Hj. Ruqiyah binti H.Ibrahim (20 Agustus 1947- 27 Mei 2019)

 

Al Fatihah…

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Allahummaghfirlahum, warhamhum, wa’afihi wa’fu ‘anhum…