Menunggu

Home / Fiksi Mini ku / Menunggu

Oleh:
Gigih Setyowati Siregar
Maulana’s Bunda
Santi Kartika Sari

 

 

“Mak, ada kupu-kupu besar disitu. Adik nangis ketakutan”, lapor Siti mengangguku yang masih mencuci piring.
“Sebentar, Nak. Mamak tanggung ni nyucinya”.

Kubiarkan Siti memanggil-manggilku ditambah tangis Desi yang membuatku sedikit hilang konsentrasi.
Tergesa aku menemui Desi sambil mengelap tanganku yang basah ke daster yang kukenakan.

Kuambil kain. Dengan sergap kugendong Desi kecil. Kuberikan Desi ASI. Dia tenang.

“Mak, kata orang-orang kalo ada kupu-kupu besar ke rumah kita tandanya mau ada orang yang datang ya?”

Ku kibas kupu-kupu besar berwarna hitam di dinding tepat sebelahku dengan bagian kain gendong yang menjuntai.

“Jangan-jangan Bapak mau pulang ya, Mak? Hore…! “, lanjut Siti. Matanya melebar. #Senyumnya membesar. Penuh harap.

Aku malah tak bisa menjawab sepatah katapun. Ini bukan kali pertama ada kupu-kupu yang menyambangi rumah kami dan Siti selalu bertanya hal yang sama.

Tapi sekali lagi, aku pura-pura menunduk. #Mataku pedih, ada setetes air hangat di ujung mataku, “Hiks… “. Kuseka air itu. Desi tak melihat.

Bang Hotman sudah 1 tahun lebih tak pulang ke rumah. Tak ada kabar juga tentang dia sampai saat ini. Sebelum pergi, yang ku tahu dia ingin ikut temannya kerja diperkebunan sawit Kalimantan.

Masih kuingat juga Bang Hotman tidak meninggalkan sepeserpun uang, apalagi surat tanah atau sesuatu yang bisa ku gadai.

Dia hanya meninggalkan hutang kontrakan lima bulan, hutang di warung, juga hutang dengan beberapa temannya yang bolak-balik menagihku sampai sekarang. #Kedua tanganku kukepal melepas kepergiannya.

Pelan ku katakan, “Kamu jahat, Bang! “.

Desi sudah terlelap. Siti sibuk mengerjakan PRnya. Sebentar lagi Siti Ujian Nasional. Banyak pengeluaran yang harus aku siapkan. Belum lagi uang pangkal masuk SMP nya.

Kutinggalkan Desi diatas kasur. Ku dekati Siti. Kepalanya kuelus sebentar sambil memberi senyum, “Yang pinter ya nak. Rajin belajar. Kelak hidupmu akan bahagia”. Siti mengangguk, tersenyum sebentar sekali. Dia masih serius.

Hujan deras di luar sana menambah syahdu malam ini.

Seperti ada suara orang jalan di luar. Langkahnya yang cepat semakin dekat dengan pintu. Aku masih menunggu benarkah orang itu menuju rumahku.

“Tok… Tok… Tok… !!!”, suara ketukan pintu yang keras itu mengejutkan kami, sekalipun tadi aku bisa menduganya.
Aku menuju pintu. Cemas menggelayuti pikiranku.

“Kreeeeekkk… ”

Kubuka pintu. Di luar gelap. Lampu teras sudah lama rusak.

Belum bisa ku lihat siapa yang berdiri disana.

Tampak seorang wanita yang berdiri di sana. Dengan penuh ragu dia melangkah lebih mendekat.

“Assalammualaikum,” ucapnya pelan.

“Waalaikum salam, maaf adik cari siapa,” tanyaku penuh selidik.

“Betul ini rumahnya Bang Hotman?, Bang Hotmannya ada?,” Dia balik bertanya.

“Adik siapa? Kenapa Adik mencari Bang Hotman?” Hatiku mulai gelisah dan bertanya-tanya siapa wanita di hadapanku ini.

“Nama saya Ina. Saya istrinya Bang Hotman, sudah tiga bulan ini Bang Hotman tidak pulang ke rumah kami di Lampung, Saya dapat alamat ini dari buku catatan Bang Hotman”, ucap wanita itu.

“Kata Bang Hotman kakak perempuannya yang tinggal di sini, pasti mbak ini kakak perempuannya Bang Hotman ya?” lanjutnya penuh yakin.

Jantungku berdegub kencang, nafas tersengat menahan emosi yang memuncak. Rasa ingin teriak menerima kenyataan pahit yang dihadirkan Bang Hotman setelah satu tahun ini aku selalu setia menunggunya dan mendoakan semua kebaikan juga keselamatan untuknya.

Setega inikah Bang Hotman padaku, tanyaku dalam hati. Terisak perih terasa saat Siti berhambur mendekatku ke pintu sambil bertanya.

“Bapak kah yang datang itu Mak?”

Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap, kepala terasa pening dan bruk, tubuhku ambruk.
****
Kulihat Desi berada di pangkuan wanita yang bernama Ina. Siti terlihat menangis.

Aku mencoba menghampiri dan berusaha membelai rambut Desi.

Tetapi sungguh aneh, Desi tidak menyadari kehadiranku. Kerumunan orang semakin banyak memenuhi ruang tamu.

Kain putih membungkus sesosok jasad yang terbujur kaku. Mataku terbelalak, ketika mendengar sebuah percakapan dari seorang tamu yang datang. Aku telah berada di dunia lain karena serangan jantung.

Tiba-tiba mata bening Siti menoleh kearahku, ia tersenyum seolah menyadari kehadiranku.
Dari mulut kecilnya terucap, “Maaaakkk.”

Aku membalas senyumannya. Dan aku akan selalu menunggumu Bang Hotman.

(TAMAT)

Leave a Reply

Your email address will not be published.